ASKEP SACTIO CAESARIA
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN
SECTIO CAESARIA
OLEH KELOMPOK 1
KELOMPOK IV (EMPAT)
KETUA : ABDA DJUSMAN
SEKERETARIS : PERI
ANGGOTA
:
Ø GITA
Ø SULKIA
Ø SUNILA
Ø MAHYUDIN
Ø SUKMAWATI
Ø TENRIAWATI
Ø ERNA ERIATI
Ø ABD. TAKBIR
Ø SRI INDRIANI
Ø SRI SUGIARTATI
Ø SULPIANA ARIFIN
Ø ZULFIKAR PASANGIO
PROGRAM
DIPLOMA III KEPERAWATAN
AKADEMI
KEPERAWATAN SAWERIGADING PEMDA LUWU
T.A
2016/2017
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
Wr. Wb
Puji syukur
kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, serta
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Sectio caesaria
ini dengan baik dan tepat waktu.
Tugas ini
kami buat untuk memberikan penjelasan tentang Sectio caesaria. Semoga
makalah yang kami buat ini dapat membantu menambah wawasan kita menjadi lebih
luas lagi.
Dalam
memilih kata-kata mana yang akan di masukan, mana yang tidak, dan begitu juga
tentang menerangkan artinya kami memakai pedoman internet dan buku asuhan
keperawatan NANDA NIC-NOC serta aplikasi Istilah kata medis.
Kami menyadari
bahwa masih banyak kekurangan dalam menyusun makalah ini. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan guna
kesempurnaan makalah ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu
Pembina dan pembimbing mata pelajaran MATERNITAS dalam hal ini dosen mata
kuliah MATERNITAS, serta kepada pihak yang telah membantu ikut serta
dalam penyelesaian makalah ini.
Wassalamualaikum
Wr. Wb
11 April 2017
Penyusun
i
DAFTAR
ISI
Halaman
judul
Kata
pengantar .......................................................................................................... i
Daftar
isi
.................................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
............................................................................................ 1
B. Rumusan
masalah
....................................................................................... 2
C. Tujuan
......................................................................................................... 2
BAB
III TINJAUAN TEORI
A. Defenisi
....................................................................................................... 3
B. Etiologi
....................................................................................................... 3
C. Patofisiologi
................................................................................ .......... 4
D. Klasifikasi
................................................................................................... 6
E.
Indikasi
.................................................................................................. 7
F.
Komplikasi
.................................................................................................. 8
G. Pemeriksaan
diagnostik
.............................................................................. 8
H. Penatalaksanaan
.......................................................................................... 9
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN (NANDA
NIC-NOC)
A. Pengkajian
................................................................................................... 16
ii
B. Diagnosa
..................................................................................................... 17
C. Intervensi
.................................................................................................... 17
D. Diagnosa
yang umum muncul/terjadi
........................................................ 21
Bagan Asuhan
Keperawatan NANDA NIC-NOC .............................. 22
BAB
IV PENUTUP
A. Kesimpulan
................................................................................................. 26
DAFTAR
PUSTAKA ........................................................................................ 27
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Biasanya sectio caesaria
dilakukan karena adanya kelainan pada janin seperti janin yang terlalu besar, ancaman
gawat janin, kelainan bentuk panggul ataupun adanya hambatan jalan lahir
(Bobak, 2005). Pasien post sectio akan mengalami nyeri/ketidaknyamanan karena
insisi ataupun efek-efek anestesi, resiko penurunan elastisitas otot perut,
resiko trombosis dan penurunan kemampuan ADL. Selain itu, sama halnya dengan
pasien port partum normal, pasien post sectio juga akan mengalami
perubahan fisik dan psikologik setelah melahirkan. Oleh karena itu perlu dilakukan perawatan pada ibu, dengan
dilakukannya perawatan maka kesehatan ibu dan bayi akan terjaga baik fisik
maupun psikologik, selain itu dengan melaksanakan asuhan keperawatan dengan
benar, kelainan yang dialami ibu setelah melahirkan akan mudah dideteksi dan
diobati dengan cepat. Berdasarkan hal di atas, maka kelompok
tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan post sectio
caesaria.
Sectio caesaria adalah suatu
persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding
depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalamkeadaan utuh serta berat
janin di atas 500 gram (Sarwono, 1991).
Nasib janin yang ditolong
secara sectio caesaria sangat tergantung dari keadaan janin sebelum dilakukan
operasi. Menurut data di Indonesia
dengan pengawasan antenatal yang baik dari fasilitas neonatal yang sempurna,
angka kematian perinatal sekitar 4-7% (Rustam mochtar, 1992).
Menurut data dari rumah
sakit putri hijau dalam satu tahun terakhir dari 200 ibu hamil hampir 70%
melahirkan melalui pembedahan atau section caesarea dengan indikasi masalah
dalam persalinan mulai dari masalah ibu seperti panggul sempit sampai masalah
pada bayi seperti letak lintang.
B.
Rumusan masalah
1.
Apa defenisi
dari Sectio caesaria?
2.
Apa
etiologi/penyebab Sectio caesaria?
3.
Bagaimana
patofisiologi Sectio caesaria?
4.
Ada berapa
macam/jenis Sectio caesaria?
5.
Apa indikasi
yang akan terjadi bila dilakukan Sectio caesaria?
6.
Apa saja
komplikasi yang muncul apa bila dilakukan Sectio caesaria?
7.
Apa saja
pemeriksaan diagnostik yang dilakukan sebelum dilakukan Sectio caesaria?
8.
Bagaimana pentalaksanaan
Sectio caesaria?
9.
Bagaimana Asuhan
Keperawatan Sectio caesaria?
C.
Tujuan
1.
Agar kita
mengetahui defenisi dari Sectio caesaria?
2.
Agar kita
mengetahui etiologi/penyebab Sectio caesaria?
3.
Agar kita
mengetahui patofisiologi Sectio caesaria?
4.
Agar kita
mengetahui berapa macam/jenis Sectio caesaria?
5.
Agar kita
mengetahui indikasi yang akan terjadi bila dilakukan Sectio caesaria?
6.
Agar kita
mengetahui apa saja komplikasi yang muncul apa bila dilakukan Sectio caesaria?
7.
Agar kita
mengetahui apa saja pemeriksaan diagnostik yang dilakukan sebelum dilakukan Sectio
caesaria?
8.
Agar kita
mengetahui bagaimana pentalaksanaan Sectio caesaria?
9.
Agar kita
mengetahui Asuhan Keperawatan Sectio caesaria?
BAB II
TINJAUAN
TEORI
A.
Defenisi
Sectio caesaria adalah suatu
cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan
perut. (Rustam Mochtar, 1992).
Sectio caesaria adalah pembedahan untuk melahirkan
janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim (Mansjoer, 2002)
Sectio Caesaria ialah tindakan untuk melahirkan janin
dengan berat badan diatas 500 gram
melalui sayatan pada dinding uterus yang utuh (Gulardi &
Wiknjosastro, 2006)
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana
janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding
rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram
(Sarwono, 2009)
B.
Etiologi
Operasi sectio caesarea
dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu
ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses
persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia ).
1.
Pada Ibu
a.
disproporsi
kepala panggul
b.
Disfungsi uterus
c.
Distosia
jaringan lunak
d.
Plasenta previa
e.
His lemah /
melemah
2.
Pada Anak
a.
Janin besar
b.
Gawat janin
c.
Letak lintang
d.
Hydrocephalus
C.
Patofisiologi
SC merupakan tindakan untuk
melahirkan bayi dengan berat di atas 500 gr dengan sayatan pada dinding uterus
yang masih utuh. Indikasi dilakukan tindakan ini yaitu distorsi kepala panggul,
disfungsi uterus, distorsia jaringan lunak, placenta previa dll, untuk ibu.
Sedangkan untuk janin adalah gawat janin. Janin besar dan letak lintang setelah
dilakukan SC ibu akan mengalami adaptasi post partum baik dari aspek kognitif
berupa kurang pengetahuan. Akibat kurang informasi dan dari aspek fisiologis
yaitu produk oxsitosin yang tidak adekuat akan mengakibatkan ASI yang keluar
hanya sedikit, luka dari insisi akan menjadi post de entris bagi kuman. Oleh
karena itu perlu diberikan antibiotik dan perawatan luka dengan prinsip steril.
Nyeri adalah salah utama karena insisi yang mengakibatkan gangguan rasa nyaman.
Sebelum dilakukan operasi
pasien perlu dilakukan anestesi bisa bersifat regional dan umum. Namun anestesi
umum lebih banyak pengaruhnya terhadap janin maupun ibu anestesi janin sehingga
kadang-kadang bayi lahir dalam keadaan upnoe yang tidak dapat diatasi dengan
mudah. Akibatnya janin bisa mati, sedangkan pengaruhnya anestesi bagi ibu
sendiri yaitu terhadap tonus uteri berupa atonia uteri sehingga darah banyak
yang keluar. Untuk pengaruh terhadap nafas yaitu jalan nafas yang tidak efektif
akibat sekret yan berlebihan karena kerja otot nafas silia yang menutup.
Anestesi ini juga mempengaruhi saluran pencernaan dengan menurunkan mobilitas
usus.
Patway
Gangguan rasa

Penurunan suplai O2 Gangguan pola
dan sirkulasi tidur
Intoleransi
aktivitas
D.
Klasifikasi
1.
Abdomen (Sectio
Caesarea Abdominalis)
a.
Sectio Caesarea
Transperitonealis
Sectio Caesarea klasik atau corporal dengan insisi
memanjang pada corpus uteri. Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada
corpus uteri kira – kira 10 cm.
Ø Kelebihan:
1)
Mengeluarkan
janin lebih cepat
2)
Tidak
menyebabkan komplikasi tertariknya vesica urinaria
3)
Sayatan bisa
diperpanjang proximal atau distal.
Ø Kekurangan :
1)
Mudah terjadi
penyebaran infeksi intra abdominal karena tidak ada retroperitonealisasi yang
baik.
2)
Sering terjadi
rupture uteri pada persalinan berikutnya.
b.
Sectio Caesarea
ismika atau profunda atau low cervical dengan insisi pada segmen bawah rahim. Dilakukan
dengan membuat sayatan melintang (konkaf) pada segmen bawah rahim, kira – kira
10 cm.
Ø Kelebihan
1)
Penutupan luka
lebih mudah.
2)
Penutupan luka
dengan retroperitonealisasi yang baik.
3)
Tumpang tindih
dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga
peritoneum.
4)
Perdarahan
kurang.
5)
Kemungkinan
terjadi rupture uteri spontan kurang / lebih kecil dari pada cara klasik.
Ø Kekurangan
1)
Luka dapat
melebar ke kiri , ke kanan dan ke bawah sehingga dapat menyebabkan arteri
Uterina putus sehingga terjadi pendarahan hebat.
2)
Keluhan pada
vesica urinaria post operatif tinggi.
c.
Sectio Caesarea
Extraperitonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian
tidak membuka cavum abdomen.
2.
Vagina (Sectio
Caesarea Vaginalis)
Menurut arah
sayatan rahim, section caesarea dapat dilakukan antara lain sebagai berikut
a.
Sayatan
memanjang (longitudinal)
b.
Sayatan
melintang (transversal)
c.
Sayatan huruf T
(T incision)
E.
Indikasi
Operasi sectio caesarea
dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu
ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-halyang perlu tindakan SC proses
persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal (Dystasia).
1.
Fetal distress
2.
His lemah /
melemah
3.
Janin dalam
posisi sungsang atau melintang
4.
Bayi besar ( BBL
≥ 4,2 kg )
5.
Plasenta previa
6.
Kalainan letak
7.
Disproporsi
cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul)
8.
Rupture uteri
mengancam
9.
Hydrocephalus
10.
Primi muda atau
tua
11.
Partus dengan
komplikasi
12.
Panggul sempit
F.
Komplikasi
Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini
(Sectio caesaria) antara lain sebagai berikut :
1.
Infeksi
puerperal (Nifas)
a.
Ringan, dengan
suhu meningkat dalam beberapa hari
b.
Sedang, suhu
meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung
c.
Berat,
peritonealis, sepsis dan usus paralitik
2.
Perdarahan
a.
Banyak pembuluh
darah yang terputus dan terbuka
b.
Perdarahan pada
plasenta bed
c.
Luka kandung
kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu
tinggi
G.
Pemeriksaan
Diagnostik
1.
Pemantauan janin
terhadap kesehatan janin
2.
Pemantauan EKG
3.
Elektrolit
4.
Hemoglobin/Hematokrit
5.
Golongan darah
6.
Urinalisis
7.
Amniosentesis
terhadap maturitas paru janin sesuai indikasi
8.
Pemeriksaan
sinar x sesuai indikasi.
9.
Ultrasound
sesuai pesanan
H.
Penatalaksanaan
1.
Medik
a.
Bedah Caesar
Klasik/ Corporal.
1)
Buatlah
insisi membujur secara tajam dengan pisau pada garis tengah korpus uteri
diatas segmen bawah rahim. Perlebar insisi dengan gunting sampai
sepanjang kurang lebih 12 cm saat menggunting lindungi janin dengan dua jari
operator.
2)
Setelah cavum uteri terbuka kulit ketuban dipecah.
Janin dilahirkan dengan meluncurkan kepala janin keluar melalui irisan tersebut.
3)
Setelah janin lahir sepenuhnya tali pusat diklem ( dua
tempat) dan dipotong diantara kedua klem tersebut.
4)
Plasenta dilahirkan secara manual kemudian segera
disuntikkan uterotonika kedalam miometrium dan intravena.
5)
Luka insisi dinding uterus dijahit kembali dengan cara
:
Ø Lapisan I
Miometrium tepat diatas endometrium dijahit secara
silang dengan menggunakan benang chromic catgut no.1 dan 2
Ø Lapisan II
lapisan miometrium diatasnya dijahit secara kasur
horizontal (lambert) dengan benang yang sama.
Ø Lapisan III
Dilakukan reperitonealisasi dengan cara peritoneum
dijahit secara jelujur menggunakan benang plain catgut no.1 dan 2
6)
Eksplorasi kedua
adneksa dan bersihkan rongga perut dari sisa-sisa darah dan air ketuban
7)
Dinding abdomen
dijahit lapis demi lapis.
b.
Bedah Caesar
Transperitoneal Profunda
1)
Plika
vesikouterina diatas segmen bawah rahim dilepaskan secara melintang, kemudian
secar tumpul disisihkan kearah bawah dan samping.
2)
Buat insisi
secara tajam dengan pisau pada segmen bawah rahim kurang lebih 1 cm dibawah
irisan plika vesikouterina. Irisan kemudian diperlebar dengan gunting sampai
kurang lebih sepanjang 12 cm saat menggunting lindungi janin dengan dua jari
operator.
3)
Setelah cavum
uteri terbuka kulit ketuban dipecah dan janin dilahirkan dengan cara
meluncurkan kepala janin melalui irisan tersebut.
4)
Badan janin dilahirkan dengan mengaitkan kedua
ketiaknya.
5)
Setelah janin dilahirkan seluruhnya tali pusat diklem
( dua tempat) dan dipotong diantara kedua klem tersebut.
6)
Plasenta dilahirkan secara manual kemudian segera
disuntikkan uterotonika kedalam miometrium dan intravena.
7)
Luka insisi dinding uterus dijahit kembali dengan cara
:
Ø Lapisan I
Miometrium tepat diatas endometrium dijahit secara
silang dengan menggunakan benang chromic catgut no.1 dan 2
Ø Lapisan II
Lapisan miometrium diatasnya dijahit secara kasur
horizontal (lambert) dengan benang yang sama.
Ø Lapisan III
Peritoneum plika vesikouterina dijahit secara
jelujur menggunakan benang plain catgut no.1 dan 2
8)
Eksplorasi kedua
adneksa dan bersihkan rongga perut dari sisa-sisa darah dan air ketuban
9)
Dinding abdomen
dijahit lapis demi lapis.
c.
Bedah Caesar
Ekstraperitoneal
1)
Dinding perut
diiris hanya sampai pada peritoneum. Peritoneum kemudia digeser kekranial agar
terbebas dari dinding cranial vesika urinaria.
2)
Segmen bawah
rahim diris melintang seperti pada bedah Caesar transperitoneal profunda
demikian juga cara menutupnya.
3)
Histerektomi
Caersarian ( Caesarian Hysterectomy)
4)
Irisan uterus
dilakukan seperti pada bedah Caesar klasik/corporal demikian juga cara
melahirkan janinnya
5)
Perdarahan yang terdapat pada irisan uterus dihentikan
dengan menggunakan klem secukupnya.
6)
Kedua adneksa dan ligamentum rotunda dilepaskan dari
uterus.
7)
Kedua cabang arteria uterina yang menuju ke korpus
uteri di klem (2) pada tepi segmen bawah rahim. Satu klem juga ditempatkan
diatas kedua klem tersebut.
8)
Uterus
kemudian diangkat diatas kedua klem yang pertama. Perdarahan pada tunggul
serviks uteri diatasi.
9)
Jahit cabang
arteria uterine yang diklem dengan menggunakan benang sutera no.2.
10)
Tunggul serviks
uteri ditutup dengan jahitan ( menggunakan chromic catgut ( no.1 atau 2 )
dengan sebelumnya diberi cairan antiseptic.
11)
Kedua adneksa
dan ligamentum rotundum dijahitkan pada tunggul serviks uteri.
12)
Dilakukan
reperitonealisasi sertya eksplorasi daerah panggul dan visera abdominis.
13)
Dinding abdomen
dijahit lapis demi lapis
2.
Kepertawatan
a.
Letakan pasien
dalam posisi pemulihan
b.
Periksa kondisi
pasien, cek tanda vital tiap 15 menit selama 1 jam pertama, kemudian tiap 30
menit jam berikutnya. Periksa tingkat kesadaran tiap 15 menit sampai sadar
c.
Yakinkan jalan nafas bersih dan cukup ventilasi
d.
Transfusi jika
diperlukan
e.
Jika tanda vital dan hematokrit turun walau diberikan
transfusi, segera kembalikan ke kamar bedah kemungkinan terjadi perdarahan
pasca bedah
3.
Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah
penderita flatus lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral.
Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 - 10
jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh.
4.
Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
a.
Miring kanan dan
kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi
b.
Latihan
pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini mungkin
setelah sadar
c.
Hari kedua post operasi,
penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu
menghembuskannya.
d.
Kemudian posisi
tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk (semifowler)
e.
Selanjutnya
selama berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan belajar duduk selama
sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai
hari ke5 pasca operasi.
5.
Fungsi gastrointestinal
a.
Jika tindakan tidak berat beri pasien diet cairan
b.
Jika ada tanda infeksi , tunggu bising usus timbul
c.
Jika pasien bisa flatus mulai berikan makanan padat
d.
Pemberian infus diteruskan sampai pasien bisa minum
dengan baik
6. Perawatan
fungsi kandung kemih
a. Jika urin jernih, kateter dilepas 8 jam setelah
pembedahan atau sesudah semalam
b. Jika urin tidak jernih biarkan kateter terpasang
sampai urin jernih
c. Jika terjadi perlukaan pada kandung kemih biarkan
kateter terpasang sampai minimum 7 hari atau urin jernih.
d. Jika sudah tidak memakai antibiotika berikan
nirofurantoin 100 mg per oral per hari sampai kateter dilepas
e. Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan
tidak enak pada penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan
perdarahan. Kateter biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi tergantung
jenis operasi dan keadaan penderita.
7. Pembalutan
dan perawatan luka
a. Jika pada pembalut luka terjadi
perdarahan atau keluar cairan tidak terlalu banyak jangan mengganti pembalut
b. Jika pembalut agak kendor ,
jangan ganti pembalut, tapi beri plester untuk mengencangkan
c. Ganti pembalut dengan cara steril
d. Luka harus dijaga agar tetap
kering dan bersih
e. Jahitan fasia adalah utama dalam bedah abdomen, angkat
jahitan kulit dilakukan pada hari kelima pasca SC
8.
Analgesik dan
obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
a.
Pemberian
analgesia sesudah bedah sangat penting
b.
Supositoria : ketopropen sup 2x/ 24 jam
c.
Oral : tramadol tiap 6 jam atau
paracetamol
d.
Injeksi : penitidine 90-75 mg diberikan
setiap 6 jam bila perlu
9.
Obat-obatan lain
Untuk
meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan caboransia seperti
neurobian I vit.C.
10. Hal – Hal lain yang perlu
diperhatikan
a.
Paska bedah penderita dirawat dan diobservasi
kemungkinan komplikasi berupa perdarahan dan hematoma pada daerah operasi
b.
Pasca operasi perlu dilakukan drainase untuk mencegah
terjadinya hematoma.
c.
Pasien dibaringkan dengan posisi semi fowler
(berbaring dengan lutut ditekuk) agar diding abdomen tidak tegang.
d.
Diusahakan agar penderita tidak batuk atau menangis.
e.
Lakukan perawatan luka untuk mencegah terjadiny
infeksi
f.
Dalam waktu 1 bulan jangan mengangkut barang yang
berat.
g.
Selama waktu 3 bulan tidak boleh melakukan kegiatan
yang dapat menaikkan tekanan intra abdomen
h.
Pengkajian difokuskan pada
kelancaran saluran nafas, karena bila terjadi obstruksi kemungkinan terjadi
gangguan ventilasi yang mungkin disebab-kan karena pengaruh obat-obatan,
anestetik, narkotik dan karena tekanan diafragma. Selain itu juga penting
untuk mempertahankan sirkulasi dengan mewaspadai terjadinya hipotensi dan
aritmia kardiak. Oleh karena itu perlu memantau TTV setiap 10-15 menit
dan kesadaran selama 2 jam dan 4 jam sekali.
i.
Keseimbangan cairan dan elektrolit, kenyamanan fisik
berupa nyeri dan kenya-manan psikologis juga perlu dikaji sehingga perlu adanya
orientasi dan bimbingan kegi-atan post op seperti ambulasi dan nafas dalam
untuk mempercepat hilangnya pengaruh anestesi.
j.
Perawatan pasca operasi, Jadwal pemeriksaan ulang
tekanan darah, frekuensi nadi dan nafas. Jadwal pengukuran jumlah produksi urin
Berikan infus dengan jelas, singkat dan terinci bila dijumpai adanya penyimpangan
k.
Penatalaksanaan medis, Cairan IV sesuai indikasi.
Anestesia; regional atau general Perjanjian dari orang terdekat untuk tujuan
sectio caesaria. Tes laboratorium/diagnostik sesuai indikasi. Pemberian
oksitosin sesuai indikasi. Tanda vital per protokol ruangan pemulihan, Persiapan
kulit pembedahan abdomen, Persetujuan ditandatangani. Pemasangan kateter fole
BAB III
KONSEP
DASAR KEPERAWATAN
Asuhan keperawatan adalah metode dimana
suatu konsep diterapakan dalam praktek keperawatan. Hal ini biasa disebut
sebagai suatu pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu teknik dan
keterampilan interversonal dan tujuan untuk memenuhi kebutuhan klien.
A.
Pengkajian
Pengkajian
adalah langkah pertama dari proses keperawatan melalui kegiatan pengumpulan data
atau prolehan data yang akurat dari pasien guna mengetahui berbagai
permasalahan yang ada.
Adapun pengkajian yang dilakuakan pada pasien yaitu :
a.
Identitas
b.
Sirkulasi
Perhatikan riwayat masalah jantung, udema pulmonal, penyakit vaskuler
perifer atau stasis vaskuler (peningkatan resiko pembentukan thrombus).
c.
Integritas ego
Perasaan cemas, takut, marah, apatis, serta adanya factor-faktor stress
multiple seperti financial, hubungan, gaya hidup. Dengan tanda-tanda tidak
dapat beristirahat, peningkatan ketegangan, stimulasi simpatis.
d.
Makanan/cairan
Malnutrisi, membrane mukosa yang kering pembatasan puasa pra operasi
insufisiensi Pancreas/ DM, predisposisi untuk hipoglikemia/ ketoasidosis.
e.
Pernafasan
Adanya infeksi, kondisi yang kronik/batuk, merokok.
f.
Keamanan
1)
Adanya alergi
atau sensitive terhadap obat, makanan, plester dan larutan.
2)
Adanya
defisiensi imun
3)
Munculnya
kanker/adanya terapi kanker
4)
Riwayat
keluarga, tentang hipertermia malignan/reaksi anestesi
5)
Riwayat penyakit
hepatic
6)
Riwayat tranfusi
darah
7)
Tanda munculnya
proses infeksi.
B.
Diagnosa Keperawatan
Yang Mungkin Muncul
1.
Perubahan
Perfusi
2.
Devisit Volume
Cairan
3.
Gangguan rasa
nyaman: Nyeri
4.
Intoleransi
Aktivitas
5.
Gangguan
Integritas Kulit
6.
Resiko tinggi
Infeksi
C.
Rencana Asuhan
Keperawatan (Intervensi)
1.
Perubahan
Perfusi Jaringan
Ø Tujuan
Diharapkan suplai/ kebutuhan darah ke jaringan terpenuhi
Ø Kriteria Hasil :
a.
Conjunctiva
tidak anemis
b.
Acral hangat
c.
Hb normal
d.
Muka tidak pucat
e.
Tidak lemas
f.
Tanda-tanda
vital (TTV) dalam batas normal
TD : 120/80 mmHg,
Nadi : 80-100 x/menit
RR : 18-20x/menit,
Suhu : 36-370C
Ø Intervensi :
a.
Jelaskan penyebab
terjadi perdarahan
b.
Monitor
tanda-tanda vital (TTV)
c.
Kaji tingkat
perdarahan setiap 15-30 menit
d.
Kolaborasi
pemberian cairan infus isotonik
e.
Kolaborasi
pemberian tranfusi darah bila Hb rendah
2.
Devisit Volume
Cairan
Ø Tujuan
Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik
jumlah maupun kualitas.
Ø Kriteria Hasil :
a.
Tanda-tanda
vital (TTV) dalam batas normal :
TD : 120/80 mmHg,
Nadi : 80-100 x/menit
RR : 18-20x/menit,
Suhu : 36-370C
b.
Turgor elastik, membran
mukosa bibir basah, mata tidak cowong, UUB tidak cekung.
Ø Intervensi:
a.
Kaji kondisi
status hemodinamika.
b.
Ukur pengeluaran
harian
c.
Berikan sejumlah
cairan pengganti harian
d.
Evaluasi status
hemodinamika
e.
Pantau intake
dan output
3.
Gangguan rasa
nyaman
Ø Tujuan
Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami
Ø Kriteria Hasil :
a.
Mengungkapkan
nyeri dan tegang di perutnya berkurang
b.
Skala nyeri 0-1
(dari 0 – 10)
c.
Dapat melakukan
tindakan untuk mengurangi nyeri
d.
Kooperatif
dengan tindakan yang dilakukan
e.
Tanda-tanda
vital (TTV) dalam batas normal :
TD : 120/80 mmHg,
Nadi : 80-100 x/menit
RR : 18-20x/menit,
Suhu : 36-370C
Ø Intervensi :
a.
Kaji tingkat
nyeri yang dirasakan klien (PQRST)
b.
Pertahankan
tirah baring selama masa akut
c.
Terangkan nyeri
yang diderita klien dan penyebabnya.
d.
Ajarkan teknik
distraksi/relaksai untuk memblok nyeri
e.
Observasi
tanda-tanda vital (TTV)
f.
Kolaborasi
pemberian analgetika
4.
Intoleransi
Aktivitas
Ø Tujuan
Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi
Ø Kriteria Hasil :
Klien mampu melakukan aktivitasnya secara mandiri
Ø Intervensi :
a.
Kaji tingkat
kemampuan klien untuk beraktivitas
b.
Kaji pengaruh
aktivitas terhadap kondisi luka dan kondisi tubuh umum
c.
Bantu klien
untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari.
d.
Bantu klien
untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan /kondisi klien
e.
Evaluasi
perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas
5.
Gangguan
Integritas Kulit
Ø Tujuan
Memperbaiki integritas kulit dan proteksi jaringan
Ø Kriteria Hasil :
Tidak terjadi kerusakan integritas kulit
Ø Intervensi :
a.
Berikan
perhatian dan perawatan pada kulit
b.
Lakukan latihan
gerak secara pasif
c.
Lindungi kulit
yang sehat dari kemungkinan maserasi
d.
Jaga kelembaban
kulit.
6.
Resiko tinggi
Infeksi
Ø Tujuan
Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan dan luka operasi.\
Ø Kriteria Hasil :
Tidak ada tanda – tanda infeksi, seperti : merah, panas, bengkak, fungsio
laesa
Ø Intervensi
a.
Kaji kondisi
keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau dari luka operasi.
b.
Terangkan pada
klien pentingnya perawatan luka selama masa post operasi.
c.
Lakukan
pemeriksaan biakan pada dischart.
d.
Lakukan
perawatan luka
e.
Terangkan pada
klien cara mengidentifikasi tanda inveksi.
D.
Diagnosa yang
umum terjadi pada Sectio caesaria
1.
Nyeri akut
2.
Devisit volume
cairan
3.
Intoleransi
aktivitas
4.
Resiko tinggi
infeksi.
Bagan Asuhan Keperawatan NANDA NIC-NOC
|
NDX
|
DIAGNOSA
|
TUJUAN (NOC)
|
INTERVENSI (NIC)
|
|
1.
|
Nyeri akut
Ø Defenisi
:
Nyeri adalah pengalaman sensori dan
emosional yang tidak menyenangakan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang
aktual maupun potensial atau di gambarkan dalam hal sedemikian rupa
Ø Kriteria
:
1. Ku
lemah
2. Perubahan
selera makan
3. Perubahan
tanda-tanda vital (TTV)
4. Ekspresi
wajah nampak meringis
5. Mengerutkan
muka
6. Melaporkankan
adanya nyeri
Ø Faktor
penyebab :
Agen cedera (mis ; Biologis,
zat kimia, fisik, dan psikologis).
|
Ø Pain
level
Ø Pain
control
Ø Comfort
level
Kriteria hasil :
1. Mampu
mengontrol nyeri
2. Melaporkan
bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
3. Mampu
mengenali nyeri
4. Menyatakan
rasa nyaman setelah nyeri berkurang.
|
Domain
: 12 kenyamanan
Kelas
1 : Kenyamanan fisik
00132 : Nyeri akut
1. Kaji
tingkat nyeri yang dirasakan klien
2. Berikan
poosisi ysng nyaman
3. Ajarkan
klien relaksasi nafas dalam bila timbul nyeri
4. Observasi
tanda-tanda vital (TTV)
5. Penatalaksanaan
pemberian obat analgetik.
|
|
2.
|
Kekurangan volume cairan
Ø Defenisi
:
Penurunan cairan intravaskuler,
intertisial dan intraseluler ini mengacu pada dehidrasi kehilangan cairan
saat tanpa perubahan pada nutrium.
Ø Kriteria
:
1. Penurunan
berat badan
2. Ku
lemah
3. Haus
4. Kulit
kering
5. membran
mukosa kering
Ø Faktor
penyebab :
1. Kehilangan
cairan aktif
2. Kegagalan
mekanisme regulasi.
|
Ø Fruid
balance
Ø Hydration
Ø Nutritional
stratus : food and fruid
Ø Intake
Kriteria
hasil :
1. Mempertahankan
urine output sesuai dengan usia dan berat badan, BJ normal, dan HT normal
2. Tanda-tanda
vital (TTV) dalam batas normal
3. Tidak
ada tanda-tanda dehidrasi
4. Elastis
tugor kulitbaik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan.
|
Domain
2 : Nutrisi
Kelas
5 : Hidrasi
00027 : Kekurangan volume cairan
1. Kaji
tingkat kesulitan klien saat minum
2. Kaji
tugor kulit dan mukosa mulut
3. Anjurkan
klien untuk banyak mngkomsumsi air sedikitnya 1.500 cc/hari
4. Berikan
snack (jus buah dan buah segar)
5. Observasi
tanda-tanda vital (TTV).
|
|
3.
|
Intoleransi aktivitas
Ø Defenisi :
Intolerasi aktivitas adalah keadaan dimana seseorang dalam melakukan
aktivitas secara mandiri tidak efektif dan biasa di bantu oleh orang lain.
Ø Kriteria :
1.
Kelelahan
2.
Kelemahan
3.
Adanya
dispnue
4.
Iskemia
Ø Faktor penyebab :
Ketidak seimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan
|
Ø Self care : ADLs
Ø Toleransi aktivitas
Ø Konservasi energi
Kriteria hasil :
1.
Berpartisipasi
dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan
pernapasan
2.
Mampu
melakukan aktivitas sehari-hari (ADLS) secara mandiri
3.
Keseimbangan
aktivitas dan istirahat.
|
Domain 4 : Aktivitas/Istirahat
Kelas 4 : Respons Kardiovaskuler/Pulmonal.
1.
Observasi
adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas
2.
Kaji
adanya faktor yang menyebabkan kelelahan
3.
Bantu
klien untuk melakukan aktivitas yang bisa dilakukan
4.
Bantu
klien untuk memilih aktivitas yang disuskai
5.
Observasi
nutrisi dan sumber energi yang adekuat.
|
|
4.
|
Resiko infeksi/injuri
Ø Defenisi :
Resiko infeksi merupakan kerusakan jaringan yang terjadi pada adanya luka
atau faktor lingkungan yang kurang yang kurang sehat.
Ø Kriteria :
1.
Peningkatan
paparan lingkungan patogen
2.
Prosedur
infasif
3.
Imunosupresi
4.
Pertahan
primer tidak ade kuat
5.
Malnutrisi
6.
Penyakit
kronik
Ø Faktor penyebab :
Proses pembedahan/operasi
|
Ø Immune status
Ø Knowledge : Infection control
Ø Risk control
Kriteria hasil :
1.
Klien
bebas dari tanda dan gejala infeksi
2.
Menunjukan
kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
3.
Jumlah
leukost dalam batas normal
4.
Menunjukan
perilaku hidup sehat
5.
Status
imun dan gastrointertinal dalam batas normal.
|
Domain 11 : Keamanan/perlindungan
Kelas 1 : Infeksi
00004 : Resiko infeksi.
1.
Pertahankan
tehnik aseptik
2.
Batasi
pengunjung bila perlu
3.
Cuci
tangan setiap sebelumdan sesudah melakukan tindakan keperawatan
4.
Kaji suhu
badan klien
5.
Penatalaksanaan
pemberian obat antibiotik.
|
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sectio caesaria adalah suatu
cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan
perut.
Operasi sectio caesarea
dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu
ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses
persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia ).
Seperti disproporsi kepala panggul, Disfungsi uterus, Distosia jaringan lunak,
Plasenta previa, His lemah / melemah dan pada anak seperti Janin besar. Gawat
janin, Letak lintang dan Hydrocephalus.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito. 2001. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan,
Diagnosa keperawatan dan masalah kolaboratif. Jakarta: EGC
Johnson,
M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification
(NOC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Mansjoer, A.
2002. Asuhan Keperawatn Maternitas. Jakarta : Salemba Medika
Manuaba, Ida
Bagus Gede. 2002. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana, Jakarta
: EGC
Mc Closkey,
C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Santosa, Budi.
2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima Medika
Saifuddin, AB.
2002. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.
Jakarta : penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo
Sarwono
Prawiroharjo. 2009. Ilmu Kebidanan, Edisi 4 Cetakan II. Jakarta : Yayasan
Bina Pustaka
Komentar
Posting Komentar